Thursday, October 23rd, 2008 | Author: Heri Kurniawan

THE PAKUBUWONO RESIDENCE

Present Poem of The Day :

“TAMAN”

Kuhirup udara segar di sini

Asap dan debu di balik sana

Mampukah harum bunga bertahan

Memagari sudut-sudut taman

Siapa sempat peduli padamu

Hiruk-hiruk kota melupakanmu

Sejumlah orang tertidur lelap

Mereka hanya menabur mimpi

Di sini mereka selalu berteduh

Di tabir mimpi dan dunia nyata

Dunia kecil orang-orang kecil

Di taman terhimpit beton-beton

Kembalilah ke tamanmu

Biarkan bunga-bunga tumbuh

Menebar udara segar

Menampung mimpi Indah

“MIMPI DAN WASPADA”

Aku berpimpi jadi orang pintar

Ketika bangun tidak tahu apa-apa

Aku bermimpi jadi orang kaya

Ketika bangun belum punya apa-apa

Aku bermimpi bertemu dia

Ketika bangun dia sudah tiada

Kucari dia di sekitar rumahku

Mungkin dia belum jauh berlalu

Mungkin menyamar jadi bodoh dan miskin

Lebih bodoh dari aku, lebih miskin

Dan kalau mengenalinya, beranikah berkata :

Silahkan mampir ke rumahku?

“MIMPI BURUK”

Pulanglah !!!

Dan aku pulang

Setelah tergesa merapikan baju kisut dan rambut kusut

Didalam dada menumpuk kesakitan seorang jalanan

Gelap memberiku jalan buntu

Memaksaku meminta ke jalan batu

Di persimpangan aku harus berhenti

Di rumah setengah jadi genteng penyok

Di halamannya yang sempit diantara pagar kerompang

Berdiri pohon entah apa, daunnya gimbal dan semrawut

Seperti seorang gila yang sedang menunggu

Di ruangan diantara patahan dinding bata

Ada seepotong kaca retak

Memamfaatkan wajah duka seorang pendosa

Udara serbuk-serbuk pahit

Di kursi renyuk

Menanti kakek tua cerewet yang sakit

0, waktu tunggu aku untuk tidak menyerah disini

“CANDU”

Ada yang dating menagih

Pada malam yang tak pernah ku tunggu

Dia menagih dengan aroma candu dimulutnya

Yang tiba-tiba tercicip lidahku

Aku tak peduli rasa apa yang ku kecap

Mungkin air mata yang baru kering

Atau napas kemarau dengan ciuman gersang

Pada hari-hari yang lamau

Di dating dan tak pernah bertanya

Pada duka yang membuat garit tajam di kulit

Atau tonjolan urat dan tulang dipipi

Dia tak pernah mau tahu sedang meraba tubuh susut

Dada kempis, punggung perih, dan leher yang berat

Karena malam mengusik

Aku tak peduli, meskipun luka

Yang tengah aku atau dia gali

Meskipun sama-sama ada darah disela kuku kami

Aku atau dia hanya ingin melihat

Jiwa yang basah tiba-tiba bersenandung pagi hari

Berani menentang apa pun

Bookmark It!!!

Buzz It  Twitt It  StumbleUpon It  Facebook It  Digg It  Delicious It  Reditt It  Reditt It  
Category: Puisi
You can follow any responses to this entry through the RSS 2.0 feed. You can leave a response, or trackback from your own site.
Copy and Paste the code below
Email and IM
Websites
Forums

4 Responses

  1. ya,cukup mewakili dari kesakitan orang Indonesia yang selama ini terpendam

  2. Memang .. itulah kenyataan yang ada, terutama dikota jakarta tercinta ini.

  3. Ini puisi buatan sendiri ya?

  4. hehe … bukan ko mel …
    cuma menginspirasikan keluhan pada masyarakat kalangan bawah :D

Leave a Reply » Log in


IP


Site Meter